2hari 1malam Cirebon-Kuningan

Liburan tahun baru 2016,saatnya menjelajah Cirebon-Kuningan, Jawa Barat. Moda transportasi yang saya pilih adalah dengan kereta api Cirebon Ekspress (Cireks) Eksekutif, hanya 3 jam perjalanan dari Stasiun Gambir. Bagi yang baru pertama kali memilih kereta api sebagai moda transportasi ke Cirebon, jangan kuatir karena kereta eksekutif ini cukup sangat nyaman (bisa reclining) dan full AC. Sesampainya di Cirebon, saya sudah dijemput Pak Husni Arief yang menyewakan motornya untuk 2hari, biaya sewa Rp75.000,-/hari, cukup menjaminkan 3 kartu identitas yang bisa dipilih dari 11 pilihan.
No Telp Bapak Husni Arief : 08156404742

Hotel Amaris yang kami pilih melalui Agoda.com berlokasi sangat dekat dengan Stasiun Cirebon, dan di sekitar Stasiun Cirebon ini juga masih banyak pilihan hotel lainnya. Hari pertama, kami langsung menuju kolam pemandian air panas di Kuningan yang terletak 25Km dari pusat kota Cirebon. Saya memeilih kolam renang umum di Hotel Grage Sangkanhurip dengan membayar tiket masuk Rp 20.000,-/orang. Sebaiknya jika traveler tidak suka keramaian, jangan pergi ketika hari libur panjang, karena pemandian air panas ini akan penuh orang dan agak lama mengantri untuk bilas mandi (karena kamar mandi hanya ada 3). Setelah 1jam berendam air panas, saya hanya berganti pakaian dan dijamin badan tidak gatal karena air panas bersih serta mengandung mineral alami yang baik untuk kulit.

Lanjut menuju Gedung Perundingan Linggarjati yang terletak tidak jauh dari pemadian air panas, di kaki Gunung Ciremai (tiket masuk Rp2.000,-/orang). Di dalam kita bisa meilhat replika perabotan meja perundingan dan kamar-kamar lengkap dengan perabotnya yang digunakan sebagai tempat menginap tokoh-tokoh yang ikut dalam perundingan Linggarjati.

Gedung Perundingan Linggarjati

Kembali ke Cirebon dengan hujan rintik-rintik, saya langsung check-in menuju hotel Amaris, selain lokasi yang strategis, keramahan dan kebersihan hotel Amaris bisa menjadi pertimbangan traveler yang akan menginap di kota Cirebon. Tidak jauh dari hotel, ada Restoran Empal Gentong Krucuk di Jl. Slamet Riadi No.1 yang sangat ramai dikunjungi, nah kalau traveler ingin makan disini disarankan tidak pada saat kondisi perut kelaparan karena dibutuhkan kesabaran untuk bisa menikmati makanan disini. Selama menunggu saya berkenalan dengan pengunjung lain yang berasal dari Jakarta dan cukup sering ke Cirebon untuk kepentingan bisnis, menurut mereka sih restoran ini memang selalu ramai pengunjung dan ketika selesai bersantap, menurut mereka rasa empal gentong disini memang lebih enak dibandingkan tempat lain. 1 porsi empal gentong seharga Rp18.000,- dan 1 tusuk sate sapi seharga Rp 3.000,-. Lumayan murah kan?

Restorn Empal Gentong Krucuk

Empal Gentong Krucuk 

Kuliner yang perlu dicoba ketika berada di Cirebon adalah nasi lengko. Makanan khas Cirebon yang satu ini cukup menyehatkan karena hanya terdiri dari nasi putih, tauge kecambah, tahu, tempe, kucai disiram bumbu kacang dan bawang goreng. Nasi lengko lebih nikmat jika dinikmati dengan kecap manis khas Cirebon.

Nasi Lengko H. Barno di daerah Pagongan

Biasanya penjual nasi lengko juga menyediakan menu sate, baik sate kambing ataupun sate sapi khas CIrebon. Kalau menurut saya yang buat rasa sate di Cirebon ini begitu khas adalah kecap, karena rasa kecapnya tidak begitu manis dan beraroma sedikit kayu manis. Kuliner lain yang harus dicicipi di Cirebon adalah nasi jamblang, yang terkenal di Cirebon adalah restoran Nasi Jamblang Bu Nur. Sayang banget saya tidak berkesempatan mencicipinya karena ketika ke sana, antrian sudah sampai ke pelataran parkir, dan saya tidak punya kesabaran lebih karena juga mendung sudah menggelayut di langit. 

Hari kedua, saatnya mengeksplor kota Cirebon, tempat yang pertama kami tuju adalah Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, Taman Sari Gua Sunyaragi dan Kampung Batik Trusmi. Hal yang menarik dari Keraton di Cirebon adalah adanya piring-piring porselen asli Tiongkok yang menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon. Tak cuma di keraton, piring-piring keramik itu bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di Cirebon dan di halamannya ada patung macan sebagai lambang Prabu Siliwangi. Di depan keraton selalu ada alun alun untuk rakyat berkumpul dan pasar sebagai pusat perekonomian, di sebelah timur keraton selalu ada masjid.

Keraton yang ada di Cirebon ada beberapa karena konflik internal Kesultanan Cirebon dibagi dua menjadi Kesultanan Kanoman dan Kasepuhan. Kesultanan Kanoman dipimpin oleh Pangeran Kartawijaya dan bergelar Sultan Anom I, sementara Kesultanan Kasepuhan dipimpin oleh Pangeran Martawijaya yang bergelar Sultan Sepuh I. Kedua sultan ini kakak beradik, dan masing-masing menempati Keraton sendiri.

Kompleks Keraton Kanoman berlokasi di belakang pasar Kanoman. Di keraton ini masih terdapat berbagai benda pusaka Keraton, seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang masih terawat baik dan tersimpan di museum.


Gerbang Keraton Kanoman dengan ornamen piring keramik


Gedung Pusaka Keraton Kanoman


Keraton Kasepuhan terletak di Jl. Kasepuhan No 43 (sebelah barat Pasar Kasepuhan), tiket masuk Rp20.000,-/orang dan disediakan guide yang akan menemani dan menjelaskan sejarah dan cerita-cerita di Keraton Kasepuhan ini. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok batu merah dengan gapura batu merah yang menjadi ciri khas Cirebon

Taman Dewandaru

Gerbang Dalam Keraton Kasepuhan dengan ornamen piring keramik

Kereta Keraton Kasepuhan
Siti Hingil Keraton Kasepuhan

Pemberhentian selanjutnya Taman Sari Gua Sunyaragi yang konon dibangun oleh cicit Sunan Gunung Jati sebagai taman bermain keluarga keraton. Sunya artinya sunyi, ragi artinya raga, maka utamanya Gua ini dijadikan sebagai tempat menyepi (bersemedi). Pada zaman dahulu kompleks gua tersebut dikelilingi oleh danau yaitu Danau Jati (saat ini sudah mengering) dan air mengalir membentuk air terjun di seluruh Taman Sari Gua Sunyaragi (maka daripada itu desebut taman sari/ taman air). Bisa dibayangkan bagaimana indahnya dulu Taman Sari ini, dan betapa hebatnya sang arsitek menyusun Gua Sunyaragi ini dari tumpukan batu karang yang berasal dari lautan dalam dan batu (padahal jaman itu belum ada semen) dan menciptakan sistem pintu-pintu air sedemikian rupa sehingga bisa membentuk air terjun dari puncak Gua mengalir ke seluruh Taman Sari. 
Berbagai gua dibangun sesuai fungsinya masing-masing, yang paling menakjubkan adalah gua yang letaknya berdampingan : timur dan barat, konon katanya gua disebelah timur bisa langsung menembus ke Cina dan di sebelah barat menembus ke Arab. Tetapi menurut guide nya gua ini sudah ditutup dalamnya untuk mencegah hal-hal yang "tidak diinginkan" (takut ada yang nekad nyoba dan tersesat, hehe..). Gua-gua di sini memang terlihat kecil dari luar tetapi kita bisa menjelajah sampai ke dalam gua, tapi hati-hati untuk yang jangkung karena atap mulut gua dari batu karang yang sangat tajam.

Gua Sunyaragi

Gua Timur ke China, Gua Barat ke Arab

Sayang, banyak pengunjung ke Gua Sunyaragi kurang menyadari bahwa Gua Sunyaragi ini adalah cagar budaya bersejarah yang harus dijaga, di dalam gua banyak coretan tangan para pengunjung, bahkan ada yang kencing di dalam gua, dan sampah dibuang sembarangan. 
Kota Cirebon bisa dijelajahi secara singkat dalam waktu 2 hari, dengan mengandalkan Google Map, kita bisa mencapai tujuan kita di Cirebon dengan lebih mudah, tetapi terkadang Google Map mengarahkan kita ke jalan-jalan kecil yang sempit (Google Map memilih jarak tercepat) sehingga mungkin lebih sulit dilalui dengan mobil. Makanan di Cirebon juga cukup terjangkau, dan kemana-mana tidak banyak kemacetan (kecuali di sekitar Grage Mall). Hotel di Cirebon juga banyak pilihan, mulai dari budget hotel sampai bintang lima (jangan lupa booking hotel bila kita mengunjungi Cirebon pada saat libur panjang). Tranpsortasi lain yang bditawarkan kota Cirebon adalah becak, sangat banyak beredar di jalan-jalan dan biasanya si Abang Becak dengan ramah menawari kita untuk naik becak.

Oleh-oleh yang terkenal dari Cirebon adalah manisan mangga, sirup Champolai, dan ikan asin. Kemarin saya pergi ke Toko Manisa Sinta di pasar Kanoman, ada banyak manisan yang dijual, berbagai jenis ikan asin, sirup Champolai, bahkan batik.

Manisan Mangga Sinta

Satu Asem (permen asem yang lumer di mulut)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jogja.. Jogja... Jogja..

Liburan ke Pulau Pahawang @Kabupaten Pesawaran, Lampung Selatan

Family Outing Yogyakarta (4-9Mei 2016)