Kawah Wurung ini terletak di daerah Jampit Kecamatan Sempol Kabupaten Bondowoso letaknya disebelah barat dari objek wisata Kawah Ijen. Disini selain kita dapat menikmati keindahan Kawah Wurung itu sendiri, kita juga dapat menikmati keindahan sabana disekitar daerah itu. Untuk Hunting atau yang gemar foto-foto disinilah surganya karena disini terdapat banyak tempat yang menakjubkan. Kawasan yang memiliki luas sekitar 100 ha lebih ini masuk dalam pengelolaan Perhutani KPH Bondowoso. Ketinggian Kawah Wurung berada pada 1500 mdpl, oleh karena itu udara yang ada di sekitar kawah akan terasa cukup dingin. Pemandangan di sepanjang kawah penuh dengan warna hijau. Membentuk padang savana yang terlihat sangat indah dari kejauhan.
Bentuk Kawah Wurung Situbondo yang cukup unik dengan gunung kecil yang berada di tengahnya sekilas terlihat mirip sekali dengan Gunung Bathok yang ada di trek pendakian Bromo.
 |
| Bukit Teletubies? |
Sebaiknya kalau ingin kesini sih menggunakan kendaraan pribadi, karena jalannya masih belum cukup mulus sepanjang jalan, disarankan agar mengecek kondisi kendaraan supaya prima dan selamat sampai tujuan. Kalau saya menggunakan jasa tour, dengan harga yang tidak terlalu mahal sebenarnya, hitung2 tour private, karena yang menjadi guide adalah sahabat. Cuss dari Surabaya jam 9 malam langsung menuju ke desa Jampit. Selama perjalanan tidur aja deh daripada lihatin jalanan gelap. Hehe.. Jam 6 pagi kami sampai di penginapan yang notabene adalah rumah warga yang memang disewakan untuk para wisatawan yang ingin menginap. Segarnya udara disini, dingin, pemandangan bintang-bintang di langit sangat jelas terlihat, nyaman dan tenang. Sampai di rumah warga, kami melanjutkan tidur sebentar, pukul 7 pagi, kami bangun dan sudah tersedia sarapan sederhana ala penginapan, nasi+sayur+lauk telur+sambal+kerupuk. Dijamin lahap karena sudah semalaman berkendara ditambah dinginnya udara pagi hari, sekejap pun ludes makanan yang disediakan. Kami pun langsung menuju ke Kawah Wurung, jalanan yang dilalui berbatu, karena lokasi ini adalah sebenarnya perkebunan kopi yangmasih aktif, sehingga banyak truk lalu lalang yang membawa hasil perkebunan. Namun tenang aja, karena orang tournya sudah sering ke sini sehingga sudah paham medan disini, jadi kita tinggal melanjutkan tidur lagi... lho... haha... Tidak lama pun kami sampai di Guest House yang dibangun tahun 1927, walaupun sudah uzur tetapi bangunan masih kokoh berdiri, bersih terawat dengan pemandangan gunung terhampar di depan mata. Ya, disini cukup foto-foto saja, dan duduk menikmati indahnya pemandangan.
 |
Guset House 1927
|
 |
| Tulisan 1927 ada di Tatanan pohon di depan |
Lanjut kami pun bergerak ke lokasi Kawah Wurung. Wowww pemandangan mirip di New Zealand, makanya ngga usah jauh-jauh menikmati hijau perbukitan lengkap dengan domba-domba, cukup ke desa Jampit saja. Udara segar, pemandangan indah, nyaman, dan tenang, seketika pula stress pekerjaan, stress kehidupan, stress lain-lain hilang tidak terpikirkan lagi, menikmati indahnya hidup... Karena kami datang tidak pada saat weekend, jadi tidak ada orang yang datang, hanya kami, jadi sangat nyaman dan tenang. Konon katanya Kawah Wurung artinya Kawah yang urung jadi alias belum jadi, makanya jadilah pemandangan seperti ini nih :
 |
| Kaawah Wurung |
 |
| Perbukitan + Domba |
Desa Jampit ini bisa dibilang kondisi perekonomiannya sangat baik, walupun rumah-rumah nya adalah kepunyaan PT. PN seragam semua, tetapi warga bisa memanfaatkan rumah-rumah sebagai penginapan, toko, warung sembako, dan lain2. Banyak banget yang memiliki Pertamini, jadi jangan khawatir kehabisan bensin ya, ohya solar juga ada kok.
Tidak jauh dari penginapan ada pemandian air panas alami, bahasa kerennya Natural Hot Spring. Hanya ada 2 kolam, kolam ke-1 airnya sangat panas, mata air panas langsung mengalir ke kolam ini, dan kolam ke-2 airnya hangat, dimana air dari kolam ke-1 mengalir ke kolam ini, kelebihan air pun langsung mengalir kembali ke sunga yang terletak di samping pemandian. Ada kamar bilasnya juga kok, jadi untuk yang datang tidak menginap pun bisa mandi di pemandian air panas ini.
 |
| Natural Hot Spring |
Setelah cukup berendam pun, kami pulang untuk beristirahat, dan memasang alarm supaya bangun jam 1 pagi untuk mendaki Ijen. Beruntunglah menggunakan jasa tour yang oke banget, jadi Bapak Tour nya sudah bengunkan kami jam setengah satu untuk bersiap menuju Ijen. Cuci muka, sikat gigi, dan memakai baju hangat dan jaket tebal, senter, bawa masker, biskuit, dan air minum. Yuk berangkat.. Sesampainya di sana sudah banyak mobil tour yang datang, suasana gelap gulita dan cukup ramai orang. Sesudah Bapak Tour membeli tiket, masuklah kami, banyak yang menawarkan jasa gerobak tandu untuk sampai ke puncak, biayanya hanya Rp1 juta. Mahal ya? Hmm awalnya kami merasa juga begitu, namun setelah menjalani beberapa meter saja, rasanya sangat sepadan harga segitu, jalan menaik curam, udara dingin, dan mereka menarik bertiga orang, dua didepan menarik, satu di belakang mendorong dan ada juga yang bertugas membawa barang-barang milik pengguna jasa gerobak. Oksigen sangat tipis, jadi untuk kami orang kota yang tidak biasa berolah raga, cukup berat juga, kondisi jalan gelap gulita, untuk itulah perlu bawa senter. Ditambah udara dingin, yah maka kami cukup banyak berisitrahat di jalan menuju atas. Saran saya untuk mendaki Ijen, pakai baju hangat secukupnya, tapi jangan lupa bawa lagi untuk dipakai di atas puncak. Untuk yang tidak kuat mendaki, tidak apa, berusaha terus, semangat, walaupun 2 meter harus istirahat sejenak, karena sedikit demi sedikit pun kami akhirnya bisa mencapai puncak setelah mendaki selama 2 jam.
Untuk pemandangan Blue Fire yang terkenal itu, ya kami beruntung karena mendapatkan Blue Fire, tetapi sayang sekali dikarenakan pengambilan belerang yang tidak terkendali oleh warga, sekarang Blue Fire hanya tinggal setitik saja, mungkin kelamaan Blue Fire bisa habis. Di atas puncak angin bertipu kencang dan sangat dingin, jangan lupa bawa topi kupluk atau selendang untuk menutup kepala ya, jaket tambahan pun perlu dipakai, karena biasanya kita perlu menunggu beberapa saat lagi untuk melihat sunrise. Yah walaupun sunrise tidak terlihat seperti di Bromo, tetapi kita tetap akan mendapatkan pemandangan menakjubkan dengan semburat langit pink dan kumpulan awan dibawah. Terima kasih Tuhan karena kami diberikan kesempatan menikmati keindahan ini.
 |
| Sunrise di Ijen |
 |
| Memandang Awan |
 |
| Danau Ijen |
Ohya perbekalan yang kita bawa sebaiknya dimakan di sini, sambil duduk-dukduk dan beristirahat menikamti keindahan, supaya ketika turun nanti kita masih berenergi dan tetap kuat. Sebaiknya bekal yang kita bawa adalah roti tawar dengan selai kacang (seperti yang dibawakan oleh Bapak Tour) atau pisang, supaya energi yang digunakan untukmendaki bisa cepat tergantikan.
Perjalan menurun juga harus berhati-hati, karena pasir bisa membuat kita terpeleset. Sambil turun tetap disuguhkan pemandangan indah, wah kalau melihat jalanan sudah terang cukup curam juga tadi mendakinya, untung gelap, maka hanya fokus untuk mendaki tanpa memikirkan terjal curamnya jalanan. Hehe..
Tidak jauh dari pintu masuk Kawah Ijen, kami mampir ke Kali Pahit, yang airya berasal dari Danau Ijen diatas, disebut pahit ya pasti karena mengandung belerang, maka air nya berwarna putih susu, dan sangat indah sekali. Hati-hati ya walaupun namanya pahit, tetapi sebenarnya kadar PH nya tinggi, jadi kadar keasaman nya tinggi, jadi jangan sampai tercebur.
 |
| Kawah Pahit |
dijamin tidak akan menyesal telah datang ke Kawah Ijen, walau perlu ekstra upaya untuk mencapai puncaknya, tetapi akan terobati dengan pemandangan indahnya.
Komentar
Posting Komentar